It Called F.O.R.G.I.V.E.N.E.S.S
Friday, July 14th, 2006Gue mendapat sebuah e-mail dari seseorang. Gak penting lah ya disebutin namanya. Yang lebih nggak penting lagi adalah menceritakan tentang seseorang ini. Sebut saja oknum W. Isi e-mail itu singkat. Sangat singkat, dan tanpa title. Pertama kali gue menemukannya ada di inbox gue, gue langsung tahu siapa pengirimnya (karena oknum W ini menggunakan nama dia yg sesungguhnya) ;
_ada kan, orang2 yang nyantumin nama di e-mail mereka bukan dgn nama asli, melainkan nama samaran, nama panggilan ato nama harapan (halah.. kayak contohnya si Yosi tuh, klo di inbox gue, dia ngirim e-mail pake nama “cewek baik”, ato si P-Chan, pake nama “P-chan Muantep”.. ) _
Isi e-mail dr oknum W ini sangat simpel, berhubung gue bukan pen-deskripsi yg oke, berikut ini gue coba copy-paste-kan apa yang dia tulis di e-mailnya buat gue, tanpa ada yg ditambah atau dikurangi :
Hai, iin
Gue mau minta maaf sama kejadian dulu itu. Gue nyesel kenapa kejadian tanggal 6 mei tahun lalu itu bisa terjadi. Dan juga buat smua kesalahan gue sama elu sebelumnya. Gue gak buat alasan apa-apa ini salah gue. I’m so sorry… Baru sekarang gue minta maaf karena selama ini gue gak enak sama elu.
Sory yah, buat semuanya. Gue berharap semua bisa kembali jadi baik.
Thu, 13 Jul 2006 15:27:34 +0100 (BST)
Pikiran gue langsung melayang ke tanggal yang disebutkan oleh oknum W tersebut. Ya, 6 Mei 2005 (Yang gue sendiri baru tau, “oh, tanggal segitu yaa??!” ). Gue kenal oknum W ini dari semester 1, waktu itu gue ama dia satu seksi, n everything WAS fine, bahkan gue inget gue pernah sekelompok Metpen 1 ama dia. Semester berikutnya, everything WASN’T fine anymore. Kalo di posting blog2 gue sebelumnya gue mau bereksplisit – ria, khusus untuk cerita oknum W ini gue membiarkan temen2 gue (yang saat itu tau kenapa jadi “WASN’T Fine ;p) termasuk si oknum W juga kalo mau ikutan, utk men-define sendiri.
The point was, that moment, i started to see him differently.. kira-kira begitu.
Tapi, ya.. nggak semua hal bisa sesuai ama harapan kita kan? Begitu juga dengan harapan gue terhadap si oknum W ini. Dan harapan gue musnah di sekitar tanggal 5 atau 6 Mei 2005 seperti yang disebutkan oknum W. Dan oknum W saat itu (bagi gue) adalah tersangka tunggal penghancur harapan gue, and one of my terribly broken-hearted moment was come that day.
Tau ungkapan kebencian gue? FYI, dengan penuh keyakinan diri, saat itu gue menampar si oknum W di depan bbrp teman2nya (harusnya sih pada liat, smoga nggak, toh pada akhirnya aksi kekerasan gue itu diketahui juga oleh bbrp temen2 gue yang juga temen2nya oknum W)..
Yang gue ingat dengan emosi gue saat itu adalah gue marah besar dan benci benci benci sekali sama si oknum W. Segitu bencinya sampe gue merasa sanggup membunuhnya dengan kebencian yang gue miliki (yang ini beneran gak hiperbolis, tapi gak tau deh klo kesannya jd kayak gitu). Baru kali itu gue nabokkin orang. So pathetic, orang pertama yang gue tabok itu ya si oknum W ini. Dan kebencian gue berlanjut sampe hari ini, 14 Juli 2006. Setahun lebih setelah kejadian itu.
Selama setahun ini, yang terjadi adalah :
- Tidak pernah ada satu huruf pun kata maaf yang keluar dari mulut gue. karena bagi gue, si oknum W ini benar2 tidak bs dimaafkan.
(temen gue suka bilang, Tuhan saja mau memaafkan, kenapa gue nggak?. Well, dalam hidup gue, menyikapi konflik dgn orang lain itu terbagi 3, :
- Forgive it, and forget it.
- Forgive it, but do NOT forget it.
- Do NOT forgive it, and also do NOT forget it.
Dan konflik gue dgn W saat itu telah masuk ke dalam tingkat yang ke 3 (poin c)..
- Tidak pernah ada satu komunikasi dalam bentuk verbal maupun non verbal yang terjadi antara gue dan oknumW.
- Yang ada, klo ketemu dia, gue selalu buang muka, atau ekstrim menunjukkan kebencian gue. (aduh pokoknya benci bgt!)
- Gue nggak mau bantuin temen gue ngisi kuesioner KonTes –nya gara2 temen gue ini satu kelompok KonTes sama si oknum W.
- Gue selalu bilang ke orang2, ke temen2 gue, ke bulletin board FS setiap pertanyaan yang muncul ttg siapa orang yang pernah/paling lo benci, jawabannya ya si oknum W ini.
Satu hal kenapa sampai sekarang gue gak mau merekonsiliasi apa yg terjadi antara gue dengan oknum W. Kalo biasanya kita nggak tenang kalo lagi marahan / berantem ama orang (seperti yg pada umumnya gue rasakan), dengan si oknum W ini, berbeda. Gue dapat terus melanjutkan hidup gue seolah tidak terjadi apa-apa padahal jelas-jelas gue memupuk kebencian selama 1 tahun lebih sama oknum W. (Guru ngaji gue dulu pernah bilang, orang marahan itu nggak boleh lebih dari 3 hari, nanti dosa. Jadi sebelum 3 hari, sebaiknya baikan..) ; _aduh, maap ya’, bu Haji!”_
Pas membaca e-mail dr oknum W, gue dilanda kebingungan yang sangat berat. Nggak tau harus merespon apa.. Alhasil, tu e-mail gue anggurin aja. Dan gue juga blum ketemu2 ama nih si oknum W, so gue belum memikirkan reaksi apa yang akan gue munculkan padanya. Gue jd berpikir apakah sebenernya dia memang bener2 salah, atau justru gue yang salah? Apa yang harus gue lakukan ya?
Sebenernya, ada nggak sih sesuatu yang memang nggak bisa dimaafkan (gue jadi berjustifikasi gitu..)? atau memang sebesar apapun kesalahan seseorang pada kita, memaafkan itu adalah solusi yg terbaik?
Anyone could help me??









